SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi
Pendidikan
Dosen Pengampu
:
Ama Noor Fikri.S.Ag.M.Pd.I
Disusun Oleh:
1. Yanuar Setiawan 1112051
2. Satria Nurul Samsik 1112045
3. Puspa Mia W. 1112040
4. Nabilla Istighosah 1112036
5. Lilik Khodijah 1112056
PRODI PAI
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
2013
KATAPENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan
kepada Rosulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu
menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi
Pendidikan.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis
hadapi, baik itu yang datang dari penulis maupun yang datang dari luar. Namun
penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain
berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua juga para sahabat. Terutama
pertolongan dari Allah sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi dapat
teratasi.
Makalah ini
disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang sejarah dan perkembangan
pendidikan islam di indonesia yang mempengaruhinya serta permasalahan lainnya,
yang kami dapatkan dari berbagai sumber informasi, serta berbagai buku.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya mahasiswa Universitas
Pondok Pesantren Tinggi Darul Ulum. Penulis sadar bahwa makalah ini masih
banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran dari para pembaca demi baiknya penulisan dimasa yang akan
datang.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia antara lain ditandai
oleh munculnya berbagai lembaga pendidikan secara beretahap, mulai dari yang
amat sederhana, sampai dengan tahap-tahap ynag sudah terhitung modern dan
lengkap. Lembaga pendidikan Islam telah memainkan fungsi dan perannya sesuai
dengan tuntutan masyarakat dan zamannya. Perkembangan lembag-lembaga pendidikan
tersebut telah menarik perhatian para ahli baik dari dalam maupun luar negeri
untuk melakukan studi ilmiah secara konfrehensif.
Kini sudah banyak hasil karya penelitian para ahli yang
menginformasikan tentang pertumbuhan dan perkembangan lembaga-lembaga
pendidikan Islam tersebut. Tujuannya selain untuk memperkaya khasanah ilmu
pengetahuan yang benuansa keislaman, juga sebagai bahan rujukan dan
perbandingan bagi para pengelola pendidikan islam pada masa-masa berikutnya.
Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip yang umumnya dianut masyarakat islam
Indonesia, yaitu mempertahankantradisi masa lampau yang masih baik dan
mengambil tradisi baru yang baik lagi. Dengan cara demikian, upaya pengembangan
lembaga pendidikan islam tersebut tidak akan terserabut dari akar kulturnya
secara radikal.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa alasan munculnya lembaga pendidikan tradisional di Indonesia?
2.
Bagaimana sejarah lembaga pendidikan tradisional dalam konteks
sosiologi?
3.
Apa alasan munculnya lembaga pendidikan modern di Indonesia?
4.
Berilah satu contoh lembaga pendidikan modern dalam konteks
sosiologi!
C.
Tujuan
Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang asal dan alasan munculnya
lembaga pendidikan tradisional serta modern serta permasalahannya dalam konteks
sosiologi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Munculnya Lembaga Pendidikan Tradisional di Indonesia
Islam masuk Indonesia secara damai di bawa oleh pedagang dan
mubaligh. Adapun Islam yang masuk kedaerah lain pada umumnya banyak lewat
penakhlukan , seperti masuknya Islam ke Irak, Iran, (Parsi), Mesir, Afrika
Utara sampai Australia.
Sarjana Belanda kebanyakan berpendapat bahwa kedatangan Islam ke
Nusantara berasal dari India, diantara sarjana tersebut adalah Pijnappel dari
UniversitasLeiden, Moquette, Snock Hurgronje. Menurut Hurgronye abad ke
-12 adalah pweriode paling mungkin dari
permulaan penyebaran Islam di Nusantara(Azra, 1994: 24)
Terbentuknya masyarakat muslim disuatu tempat ialah melaluhi proses
yang panjang, yang dimulai dari terbentuknya pribadi-pribadi muslim sebagai
hasil dari upaya para da’i. Masyarakat muslim tersebut selanjutnya menumbuhkan
kerajaan Islam, tercatatlah sejumlah kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara,
seperti kerajaan Perlak, Pasai, Aceh Darussalam, Banten, Demak, dan Mataram.
Tumbuhnya pusat-pusat kekuasaan Islam di Nusantara ini jelas sangat
berengaruh sekai bagi proses Islamisasi di Indonesia. Kekuatan poliitik
digabungkan dengan semangat para mubaligh untuk mengajarkan Islam merupakan dua
sayap kembar yang mempercepat tersebarnya Islam ke berbagai wilayah Indonesia.
Ada beberapa saluran proses Islamisasi di Indonesia, yaitu
perdagangan, perkawinan, kesenian, sufisme, dan pendidikan. Pembahasan ini akan
lebih meihatnya dari peranan pendidikan dalam proses Islamisasi Pendidikan di
Indonesia.
Berbicara tentang pendidikan tentu sebaliknya
dimulai dari membicarakan apa sebetulnya ensensi pendidikan tersebut. Dipandang
dari sudut definisi pendidikan yang dikemukakan oleh pakar pendidikan, dari
sekian banyak itudapat diambil kesimpulan bahwa hakikat pendidikan itu adalah
proses pembentukan manusia ke arah yang dicita-citakan.
Dalam
teori pendidikan di kemukakan paling tidak ada tiga hal yang ditrasferkan dari
si pendidik kepada terdidik, yaitu
transfer ilmu, transfer nilai, dan transfer perbuatan (transfer knowledge,
transfer of value, transfer of skill), di dalam penasferan inilah
berlangsungnya pendidikkan.
Disebabkan
itulah proses pendidikan itu bisa berlangsung secara formal, nonformal, dan
informal. Karena itu dapat dipastikan pendidikan Islam itu telah berlangsung di
Indonesia sejak mubaligh pertama melakukan kegiatannya dalam rangka
menyampaikan keislaman baik dalam betuk pentrasferan pengetahuan ,nilai, dan
aktivitas maupun pembentukan sikap.
Pendidikan Islam di Indonesia yang pada
mulanya dilaksanakan secara informal, yang pelaksanaannya menitikberatkan
kepada terjadinya kontak- kontak pribadi antara mubaligh dengan masyarakat
sekitar. Pada waktu terjadinya hubungan antar “pemberi” dan “penerima”
terjadilah proses pendidikan. Kemudian setelah masyarakat muslimterbentuk,
pendidikan Islamsemakin intensif dilaksanakan di masjid-masjid atau langgar
dalam bentuk pendidikan non formal. Seterusnya makin intensif lagi
pelaksanaannyaa setelah terbentuk lembaga-lembaga pendidikan formal , seperti
pesantren, dayah, maktab, dan setelah abad ke-20 muncullah madarasah dan
perguruan tinggi Islam. Keseluruhan lembaga-lembaga pendidikan itumemberi
sumbangan besar bagi proses Islamisasi Indonesia.
Pada zaman pemerintahan Sultan Agung ,
kehidupan keagamaan mulai mengalami kemajuan pesat, upaya-upaya Sultan Ageng
memajukan agama cukup baik, hal ini dapat dilihat dari usaha memakmurkan
masjid, yaitu dengan cara mendirikan masjid raya (Masjid Ageng) disetiap Kabupaten
sebagai induk dari seluruh masjid yang ada di kabupaten, dan pada setiap
ibukota distrik ada sebuah masjid kewedanaan, begitu juga disetiap desa
didirikan masjid desa. Masjid Ageng dikepalai oleh seorang penghulu, Masjid
kewedanaan oleh Naib dan masjid desa oleh Modin (Sarijo, 1980:40).
Dalam bidang kebudayaan upaya yang
dilakukan oleh Sultan Ageng adalah mensenyawakan unsur-unsur budaya lama dengan
Islam, seperti :
1. Gerebeg, disesuaikan dengan hari raya Idul Fitri dan Maulid Nabi.
Terkenal ada Gerebeg Poso (puasa) dan Gerebeg Maulid.
2. Gamelan sekaten, yang hanya dibunyikan pada gerebeg Maulid, atas
kehendak Sultan Ageng dipukul dihalaman masjif besar
3. Perhitungan tahun saka (Hindu) pada mulanya berdasarkan perjalanan
matahari, tahun Saka yang telah kerangka 1555 Saka, tidak lagi ditambah
berdasarkan perhitungan matahari, tetapi dengan hitungan perjalanan bulan.
Sesuai dengan tahun Hijriyah (Yunus. 1979: 221).
Dalam bidang pendidikan Islam, perhatian Sultan Ageng cukup
besar pada zaman itu telah dibagi tingkatan-tingkatan pesantren itu kepada
beberapa tingkatan, yaitu:
1. Tingkatan pengajian al-Qur’an, tingkatan ini terdapat pada setiap desa,
yang diajarkan meliputi huruf Hijaiyah, membaca al-Qur’an, berzanji. Rukun Islam,
rukun Iman.
2. Tingkat pengajian kitab. Paras santri yang belajar pada tingkat ini
ialah mereka yang telah khatam al-Qur’an. Tempat belajar biasanya di serambi
masjid dan mereka umumnya mondok. Guru yang mengajar disini diberi gelar Kyai
Anom. Kitab yang mula-mula dipelajari adalah kitab-kitabb 6 Bis, yaitu sebuah
kitab yang berisi 6 kitab dengan 6 Bismillahirrohma-nirrahim. Kemudian
dilanjutkan dengan Matan Taqrib dan Bidayatul Hidayah karangan
Imam al-Ghazali.
3. Tingkat Pesantren Besar. Tingkat ini didirikan di daerah kabupaten
sebagai lanjutan dari pesantren desa. Kitab-kitab yang diajarkan disini adalah
kitab-kitab besar dalam bahasa Arab, lalu diterjemahkan kedalam bahasa daerah.
Cabang-cabang ilmu yang diajarkan adalah fiqih, tafsir, hadis, ilmu kalam
tasawuf dan sebagainya.
4. Pondok Pesantren tingkat keahlian (takhassus). Ilmu yang dipelajari pada
tingkat ini adalah satu cabang ilmu dengan secara mendalam. Tingkat ini adalah
tingkat spesialis (Yunus, 1979: 223-224).
B. Sejarah Lembaga Pendidikan Tradisional Dalam Konteks Sosiologi
Pada tahap awal pendidikan Islam itu berlangsung secara informal. Para
mubaligh banyak memberikan contoh teladan dalam sikap hidup mereka sehai-hari .
Para mubaligh itu menunjukkan akhlaqul karimah, sehingga masyarakat yang
didatangi menjadi tertarik untuk memeluk agama Islam dan mencontoh perilaku
mereka. Lewat pergaulan antara mubaligh
dengan masyarakat sekitar terkadang juga lewat perkawinan antara pedagang
muslim atau mubaligh dengan masyarakat sekitar terbentuklah masyarakat muslim.
Masyarakat muslim inilah yang merupakan cikal bakal tumbuh berkembangnya
kerajaan Islam.
Setelah
masyarakat muslim terbentuk, maka perhatian pertama kali ialah mendirikan rumah
ibadat (masjid langgar atau mushalla). Karena kaum muslimin diwajibkan shalat
lima waktu dan dianjurkan untuk berjamaah, kemudian sekali seminggu diwajibkan
untuk melaksanakan sholat Jum’at. Dipastikan sejak saat itulah mulai
berlangsungnya pendidikan Islam secara nonformal.
Ada beberapa lembaga Pendidikan Islam awal
yang muncul di Indonesia.
1. Masjid dan Langgar
Masjid fungsi utamanya ialah untuk tempat shalat lima waktu , ditambah
dengan sekali seminggu sholat Jum’at, dan dua kali setahun dilaksanakan shalat
hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Selain itu dari masjid ada juga tempat
ibadah yang disebut langgar, bentuknya lebih kecil dari masjid dan digunakan
untuk shalat liwa waktu , bukan untuk shalat Jum’at.
Selain dari fungsi utama, masjid dan langgar juga berfungsi untuk tempat
pendidikan. Ditempat ini dilakukan pendidikan buat oarang dewasa maupun anak-anak.
Pengajian yang dilakukan untuk orang dewasa adalah penyampaian –penyampaian
ajaran Islam oleh mubaligh(al-Ustadz, guru, kiyai) kepada para jamaah dalam
bidang uang berkenaan dengan akidah, ibadah dan akhlak, sedangkan untuk
anak-anak pengajaran berpusat kepada pengajian al-Qur’an .[1]
2. Pesantren
Menurut Sudjoko Prasodjo, “ pesantren
adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara
nonklasikal, dimana seorang kiyai mengajarkan ilmu agama Islam kepada
santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh abad
pertengahan, dan para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam psantren
tersebut.” Dengan demikian dalam lembaga pendidikan Islam yang disebut
pesantren tersebut, sekurang- kurangnya memiliki unsur-unsur: kiyai, santri,
masjid sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan dan pondok atau asrama sebagai
tempat tinggal para santri serta kitab-kitab klasik sebagai sumber atau bahan
pelajaran.
Kehadiran pesantren tidak dapat dipisahkan
dari tuntutan umat. Karena itu, pesantren sebagai lembaga pendidikan selalu
menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitarnya sehingga
keberadaannya ditangan –tangan masyarakat tidak menjadi tersaing. Dalam waktu
yang sama segala aktivitasnya pun mendapat dukungan dan apresiasi penuh dari
masyarakat sekitarnya. Semuanya memberi penilaian tersendiri bahwa sistem
pesantren adalah merupakan sesuatu yang bersifat “asli” atau “indigenos”
Indonesia, sehingga dengan sendirinya bernilai positif dan harus dikembangkan.[2]
Sistem pendidikan pesantren baik metode ,
saana fasilitas serta yang lainnya masih bersifat tradisional. Administrasi
pendidikannya belum seperti sekolah umum yang dikelola oleh pemerintah kolonial
Belanda , nonklasikal, metodenya sorongan, wetonan hafalan.[3]
3. Meunasah, Rangkang, Dayah dan Dayah Chik
Secara etimologi meunasah berasal dari perkataan madrasah, tempat belajar
atau sekolah. Bagi masyarakat Aceh meunasah tidak hanya semata-mata tempat
belajar, bagi mereka menasah memiliki multi fungsi. Meunasah disamping tempat
belajar , juga berfungsi sebagai tempat ibadah (shalat), tempat pertemuan,
musyawarah, pusat informasi, tempat tidur, dan tempat menginap bagi musafir.
Ditinjau dari segi pendidikan, menasah adalah lembaga pendidikan awal
bagi anak-anak yang disamakan dengan tingkatan Sekolah Dasar. Di menasah para
murid diajar menulis/ membaca hufur Arab, ilmu agama dalam bahasa Jawi
(Melayu), akhlak (Hasjmy, 1983: 192).
Uraian berikutnya
tentang rangkang, rangkang adalah tempat tinggal murid, yang dibangun disekitar
masjid. Menurut Qanun Meukata Alam, dalam tiap-tiap kampung harus ada satu
menuasah. Majid berfungsi sebagai tempat berbagai kegiatan umat, termasuk
didalamnya kegiatan pendidikan. Karena murid perlu mondok dan tinggal, maka
perlu dibangun tempat tinggal murid di sekitar masjid inilah yabg disebut
dengan rangkang. Pendidikan di rangkang ini terpusat kepada pendidikan agama,
disini telah diajarkan kitab-kitab yang berbahasa Arab, tingkat pendidikan ini
jika dibandigkan dengan sekolah saat sekarang setingkat Sekola Lanjutan Pertama
(Hasjmy, 1983: 192).
Sistem pendidikan di rangkang ini sama dengan sistem pemdidikan di
pesantren, murid-murid duduk membentuk lingkaran dan si guru menerangkan
pelajaran, berbentuk halaqah, metode yang disampaikan di dunia pesantren
disebut namanya denagn sorongan dan wetonan.
Lembaga pendidikan berikutnya yang populer di Aceh adalah dayah. Dayah
berasal dari bahasa Arab zawiyah. Kata zawiyah pada mulanya merujuk kepada
sudut dari satu bangunan, dan sering dikaitkan dengan masjid. Di sudut masjid
itu terjadi proses pendidikan antara si pendidik dengan si terdidik.
Selanjutnya zawiyah dikaitkan tarekat-tarekat sufi, dimana seorang syekh atau
mursyid melakukan kegiatan pendidikan kaum sufi.
Jumlah dayah tinggi sejak dari tahun 840-1903 (Masehi) lebih 50 buah di
seluruh Aceh.Hasjmy menjelaskan tentang dayah adalah sebuah lembaga pendidikan
bersumber dari bahasa Arab, misalnya fikih, bahasa Arab, tauhid, tasawuf, dan
lain-lain, tingkat pendidikannya adalah sama dengan tingkat Sekolah Lanjutan
Tingkat Atas (SLTA).
Selanjutnya pendidikan dayah
Chik. Dayah Chik merupakan perguruan tinggi Islam zaman dulu. Setiap kerajaan
Islam di Aceh memiliki dayah Chik tersebut. Kerajaan-kerajaan Islam tersebut:
a. Kerajaan Islam Peurelak
b. Kerajaan Islam Tamiang
c. Kerajaan Islam Dayah
d. Kerajaan Islam Banda Aceh Darussalam.[4]
Dari beberapa uraian tersebut dapat
dikemukakan bahwa rangkang dan dayah dalam praktiknya sama dengan pesantren di
Jawa.
4. Surau
Istilah surau di minangkabau sudah
dikenal sebelum datangnya Islam. Surau dalam system minangkabau adalah
kepunyaan suku atau kaum sebagai pelengkap rumah gadang yang berpungsi sebagai
tempat bertemu, berkumpul, rapat dan tempat tidur bagi anak laki-laki yang
telah akil baligh dan orang tua yang uzur. Fungsi surau ini semakin kuat karna
struktur masyarakat minangkabau yang menganut system matrilineal. Menurut
ketentuan bahwa laki-laki tak punya kamar dirumah orang tuanya, sehingga mereka
diharuskan untuk tidur disurau. Kenyataan ini menyebabkan surau menjadi tempat
penting pendewasaan generasi Minangkabau, baik dari segi ilmu pengetahuan
maupun keterampilan lainnya.
Fungsi surau tidak berubah setelah
kedatangan islam, hanya saja fungsi keagamaannya semakin penting yang
diperkenalkan pertama kali syekh Burhanuddin sebagai tempat mengajarkan ajaran
Islam khususnya tarekat (suluk). Sebagai lembaga pendidikan tradisional, surau
menggunakan system pendidikan halaqoh. Materi pendidikan yang diajarkan pada
awalnya masih di seputar belajar huruf hijaiyah dan membaca Al-quran. Di
samping ilmu-ilmu keislaman lainnya. Seperti keislaman, akhlak dan ibadah, pada
umumnya pendidikan ini dilaksanakan pada malam hari.[5]
Surau berfungsi sebagai lembaga
sosial buadaya,adalah fungsinya sebagai tempat pertemuan para pemuda dalam
upaya mensosialisasikan diri mereka. Selain dari itu surau juga berfungsi
sebagai tempat persinggahan dan peristirahatan para musafir yang sedang
menempuh perjalanan. Dengan demikian surau mempunyai multifungsi.[6]
Didalam referensi lain dijelaskan
pula oleh Azyumardi Azra’ bahwa surau juga menjadi tempat persinggahan bagi
musafir dan sebagainya yang sedang melalui suatu desa. Dengan masuknya islam,
surau juga mengalami proses islamisasi. Fungsinya sebagai tempat penginapan
anak-anak bujang tidak berubah, tetapi fungsinya diperluas seperti fungsi
masjid, yaitu sebagai tempat belajar membaca Al-Qur’an dan dasar-dasar agama
dan tempat ibadah.[7]
Timbulnya pemikiran pembaharuan Islam baik dalam bidang teknologi,
sosial, dan pendidikan diawali dan dilatar belakangi oleh pembaruan pemikiran
Islam yang datang dari Mesir,dimulai sejak kedatangan Napoleon. Kesadaran umat
Islam tentang pentingnya arti pembaharuan adalah ketika umat Islam menyadari
ketertinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, begitu juga dalam
bidang militer dari bangsa Eropa.[8]
Peristiwa
ini menimbulkan kesadaran umat Islam untuk mengubah diri. Kesadaran itu
menimbulkan fase pembaruan dalam periodesasi sejarah Islam. Fase pembaruan itu
muncul sebagai jawaban terhadap tuntutan kemajuan zaman dan sekaligus juga
sebagai respon umat Islam atas ketertinggalan mereka ketika itu dalam bidang
ilmu pengetahuan.[9]
Pada awal abad
ke 20, mulai berhembus ide-ide modernisasi pendidikan Islam di Indonesia.[10]
Hal ini dilatar belakangi oleh dua faktor. Faktor pertama bersumber dari
ide-ide yang dibawa oleh para tokoh dan ulama yang pulang ke tanah air setelah
beberapa lama bermukim di luar negeri (Mesir,Makkah,Madinah). Faktor kedua
yakni adanya keinginan untuk memasukkan materi pengetahuan umum dalam kurikulum
pendidikan islam. Juga dari aspek metode
tidak lagi hanya menggunakan metode sorogan, hafalan ,dan wetonan,tetapi adanya
penggunaan metode-metode baru yang sesuai dengan perkembangan zaman. Dari segi
sistem,mulai ada keinginan yang sangat kuat untuk mengubah sistem halaqah ke
sistem klasikal. Sedangkan aspek manajemen adalah penerapan manajemen
pendidikan sekolah.
Steenbrink,
menyebutkan ada beberapa faktor pendorong pembaruan lembaga pendidikan Islam[11],
yaitu :
1.
Banyaknya pemikiran untuk kembali ke Al-Qur’an dan hadits
2.
Sifat perlawanan nasional terhadap penguasa kolonial belanda
3.
Adanya usaha-usaha dari umat Islam untuk memperkuat organisasinya
di bidang sosial dan ekonomi
4.
Ketidak puasan masyarakat terhadap metode tradisional dalam
mempelajari studi agama
Berikut merupakan beberapa lembaga modern di Indonesia, yakni
sebagai berikut :
1.
Madrasah
Madrasah
yang berkembang di Indonesia berbeda
dengan perkembangan madrasah yang ada di Timur Tengah. Madrasah di Indonesia
merupakan perkembangan lebih lanjut atau pembaruan dari pesantren dan surau,
sementara madrasah yang ada di timur tengah pada abad pertengahan serupa dengan
lembaga pesantren yang ada di Indonesia. Di samping terdapat unsur-unsur
seperti pesantren yaitu masjid, asrama dan ruang belajar, madrasah di Timur
Tengah memiliki syaikh atau professor
sebagai pemegang otoritas. Dalam
konteks Indonesia, ini seperti keberadaan seorang kyai di pesantren. Meskipun sejarah pertumbuhan madrasah di
Indonesia dipandang memiliki latar belakang sejarah yang berbeda dari madrasah
yang ada di Timur Tengah, namun keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari
pengaruh pembaruan pendidikan Islam di Timur Tengah.
Perkembangan Madrasah pada abad Modern ini terjadi pada kurun awal abad
ke-20 di mana pendidikan Islam mulai mengadopsi mata pelajaran non keagamaan.
Latar belakang pertumbuhan ini tidak dapat dilepaskan dari gerakan pembaruan di
Indonesia dan adanya respon pendidikan Islam terhadap kebijakan pendidikan
pemerintah Hindia-Belanda.
Beberapa Ulama
yang telah berjasa menggagas tumbuhnya madrasah di Indonesia, antara lain
adalah Syekh Abdullah Ahmad, pendiri Madrasah Adabiyah di Padang pada tahun
1909, disusul Syekh M. Thaib Umar mendirikan Madrasah School di Batusangkar,
yang sempat tutup dan dibuka kembali pada tahun 1918 oleh Mahmud Yunus. Tahun
1923 madrasah ini berganti nama Diniyah School. Pada tahun yang sama, Madrasah
Diniyah Putri didirikan oleh Rangkayo Rahmah el-Yunusiyah yang sebelumnya, pada tahun 1915 Zainuddin
Labai al-Yunusi mendirikan Madrasah Diniyah. Madrasah Diniyah ini kemudian berkembang di Indonesia,
baik merupakan bagian pesantren, surau atau yang lain, seperti beberapa
organisasi Islam kemasyarakatan yang banyak mengelola madrasah. Di antara
organisasi-organisasi tersebut adalah Muhammadiyah, al-Irsyad, Perhimpunan Umat
Islam (PUI), persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), al-Jami’atul Washliyah,
al-ittihadiyah, Nahdatul Ulama’ dan Persatuan Islam.
Sejak lahirnya,
madrasah memiliki sistem tersendiri yang menjadi ciri khas dan membedakannya
dengan pesantren dan sekolah umum, yaitu adanya pemaduan pelajaran umum dan
agama, meskipun pemaduan kurilkulum tidaklah sama antara satu madrasah dengan
madrasah lain. secara historis, dapat dilihat bahwa madrasah telah mengalami
perubahan-perubahan. Pada tahap awal madrasah semata mengajarkan mata pelajaran
agama, namun pada akhirnya, sesuai dengan tuntutan zaman, madrasah memasukkan mata pelajaran umum yang
semula hanya sebagai pelengkap, Namun setelah keluarnya SKB tiga menteri pada
tahun 1975 yaitu SK berdasarkan kesepakatan yaitu Departemen dalam Negeri,
Departemen Agama dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Yang menjembatani adanya dikotomi ilmu-ilmu
umum dan agama. Dengan SKB ini tidak ada lagi perbedaan mendasar antara lulusan
madrasah dan sekolah umum. Baik dalam kesempatan melanjutkan studi maupun
kesempatan memperoleh peluang kerja. Dengan adanya SKB tiga mentri ini madrasah
memasuki era baru, yang mana mata pelajaran umum dominan 70% namun, bukan
berarti menafikan kedudukan mata pelajaran agama.
2.
Perguruan Tinggi Islam
Mengkaji
sejarah Perguruan Tinggi Agama Islam dapat dilacak keberadaannya sejak
didirikannya Sekolah Tinggi Islam (STI) oleh Persatuan Guru-guru Agama Islam
(PGAI) Padang pada tanggal 9 Desember 1940 dengan pimpinan Mahmud Yunus. Sekolah Tinggi Islam ini semula membuka
fakultas Tarbiyah dan Syari’ah. Pada tahun 1941, STI ini sempat tutup dengan
terjadinya peristiwa Perang Dunia II.
Pada tahun
1945, gagasan mendirikan STI kembali digulirkan sebagai kebijakan politik Masyumi
(Majelis Syura Muslimin Indonesia), yaitu sebuah organisasi Islam terbesar di
Indonesia saat itu. Dan pada akhirnya dapat berdiri kembali pada 8 Juli 1945
bertepatan dengan 27 Rajab 1364 dengan pimpinan Prof. Abdul Kahar
Mudzakkir. Tidak jauh dengan konsentrasi
yang diterapkan pada awal berdirinya STI tahun 1940, pada pendirian selanjutnya
ini STI juga mngkonsentrasikan materi pembelajaran pada ilmu agama dan kemasyarakatan.[12]
Dalam perkembangannya, STI dilakukan perbaikan dan pengembangan dengan
membuka fakultas non agama yaitu Hukum, Ekonomi dan Pendidikan. Dengan
dibukanya fakultas baru pada STI ini, menjadikan STI juga berubah nama dari STI
menjadi UII yang menjadikan tujuan lembaga juga bergeser dari lembaga
pendidikan bagi calon ulama menjadi lebih umum dan bersifat sekuler.
Dalam
perkembangan berikutnya, fakultas agama UII diubah statusnya menjadi negeri
sehingga terpisah dari UII dan menjadi PTAIN (perguruan tinggi agama islam
negeri). PTAIN diresmikan berdasarkan perturan pemerintah No.34 tahun 1950. Di
Jakarta pada tanggal 15 Mei 1957, didirikan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA).
Tujuan ADIA adalah mendidik dan mempersiapkan pegawai negeri untuk dijadikan
ahli didik dalam bidang agama.[13]
Perkembangan
selanjutnya adalah penyatuan PTAIN dan ADIA sehingga terbentuk lembaga pendidikan
tinggi islam yang beru yakni IAIN (institut agama islam negeri). Dan
selanjutnya seiring dengan keinginan untuk mensinergikan ilmu agama dan umum
maka sejak tahun 1990an munculah wacana pengubahan IAIN menjadi UIN atau
Universitas Islam Negeri.
- Contoh Lembaga Pendidikan Modern Dalam Konteks Sosiologi
Dalam konteks
masyarakat muslim, madrasah yang merupakan lembaga pendidikan islam tidak hanya
berfungsi sebagai media untuk memelihara tradisi-tradisi Islam, tetapi lebih
dari itu madrasah merupakan suatu usaha untuk melakukan perubahan sosial,
madrasah juga merupakan media untuk membangun masyarakat muslim sekaligus pintu
masuk bagi modernisasi islam.[14]
Sehingga dari sini dapat dikutahui bahwa madrasah memiliki hubungan yang kuat
dengan aspek sosiologi, sebab jika ditinjau dari segi lahirnya, madrasah muncul
dilatar belakangi adanya aspek kemasyarakatan yang mendorongnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara
singkat dalam konteks masyarakat muslim, sistem pendidikan Islam tidak hanya
berfungsi sebagai media untuk memelihara dan menjaga tradisi-tradisi islam,
tetapi lebih dari itu juga media untuk membangun masyarakat muslim sekaligus
merupakan sebuah usaha untuk melakukan perubahan sosial.
Pada tahap awal pendidikan Islam itu berlangsung secara informal. Para
mubaligh banyak memberikan contoh teladan dalam sikap hidup mereka sehai-hari.
Madrasah dan
lembaga pendidikan islam lainnya merupakan hasil perjumpaan budaya antara dari beberapa negara-negara
islam. Madrasah indonesia muncul sebagai jembatan yang menghubungkan antara
lembaga pendidikan umum dan lembaga pendidikan tradisional pesantren.
Lembaga pendidikan islam tradisional di
Nusantara antara lain yaitu: Masjid dan Langgar Masjid fungsi utamanya ialah
untuk tempat shalat lima waktu, juga berfungsi untuk tempat pendidikan.
Pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara
nonklasikal. Meunasah yaitu lembaga pendidikan awal bagi anak-anak yang
disamakan dengan tingkatan Sekolah Dasar. Rangkang adalah tempat tinggal murid,
yang dibangun disekitar masjid. Dayah adalah sebuah lembaga pendidikan
bersumber dari bahasa Arab. Dayah Chik merupakan perguruan tinggi Islam zaman
dulu. Surau yaitu sebagai tempat belajar membaca Al-Qur’an dan dasar-dasar
agama dan tempat ibadah. Lembaga pendidkan islam modern diantaranya yaitu
Madrasah di Indonesia merupakan perkembangan lebih lanjut atau pembaruan dari pesantren
atau surau yang berlanjut pada Perguruan Tinggi Agama.
Daftar Pustaka
Daulay,
Haidar Putra. 2007. Sejarah Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Islam di
Indonesia. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Masrurah,Ninik
dan Umiarso.2011.Modernisasi Pendidikan Islam Ala Azra.Jogjakarta:Ar-ruzz
Media.
Nizar,
Samsul. 2007. Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah
Sampai Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Subhan,
Arief.2012.Lembaga Pendidikan Islam Indonesia abad ke-20.jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
http://syehaceh.wordpress.com/2009/04/18/sekilas-tentang-rangkang/. Diaskes tanggal 27 Oktober 2013
http://mufeecrf.blogspot.com/2009/10/pendidikan-pada-masa-awal-masuknya.html. Diaskes tanggal 27 Oktober 2013.
[1] Haidar Putra
Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta
: Kencana Prenada Media Group, 2007), 11-21.
[2] Samsul Nizar, Sejarah
Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak
Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2007), 286.
[3]Haidar Putra
Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia,
23.
[4]http://syehaceh.wordpress.com/2009/04/18/sekilas-tentang-rangkang/. Diaskes
tanggal 27 Oktober 2013
[5]Samsul Nizar, Sejarah
Pendidikan Islam , 280.
[6]Haidar Putra
Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia,28.
[7]http://mufeecrf.blogspot.com/2009/10/pendidikan-pada-masa-awal-masuknya.html. Diaskes
tanggal 27 Oktober 2013.
[8] Haidar Putra Daulay,Dinamika Pendidikan Islam di Asis Tenggara(Jakarta
: Rineka Cipta.2009),28.
[9] Ibid.,29.
[10] Ninik Masruruh dan Umiarso,Modernisasi Pendidikan Islam ala
Azyumardi Azra(Jogjakarta:ar-ruzz media.2011),183.
[11] Haidar Putra Daulay,Dinamika Pendidikan Islam di Asis Tenggara,32
[12] Haidar Putra Daulay,Dinamika Pendidikan Islam di Asis Tenggara,23.
[13] Ibid.,24.
[14] Arief Subhan,Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad ke-20 (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.2012 ),131

Islam adalah agama Ilmu,menteripendidikan.com
BalasHapusbolehkah saya meng copy latar belakang dari makalah ini? :)
BalasHapus