MEMAHAMI SEKOLAH SEBAGAI SUATU SISTEM DAN STRUKTUR
ORGANISASI/BIROKRASI
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliyah sosiologi
pendidikan
Dosen pengampu:
Disusun oleh:
1.
Putri wahyu (1112087)
2.
Shihhatul M (1112059)
3.
Neni Sri Haeni (1112037)
4.
Shodiqin
(1112047)
5.
Khoirul mundzir
(1112052)
PRODI PAI
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
2013
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rosulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun
mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi
Pendidikan.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis
hadapi, baik itu yang datang dari penulis maupun yang datang dari luar. Namun
penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain
berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua juga para sahabat. Terutama
pertolongan dari Allah sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi dapat
teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang
Sosiologi pendidikan serta permasalahan
lainnya, yang kami dapatkan dari berbagai sumber informasi, serta berbagai
buku.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya mahasiswa Universitas
Pondok Pesantren Tinggi Darul Ulum. Penulis sadar bahwa makalah ini masih
banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran dari para pembaca demi baiknya penulisan dimasa yang akan
datang.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan berbagai negara di berbagai belahan dunia,
birokrasi berkembang sebagai wadah utama dalam penyelenggaraan negara dalam
berbagai bidang kehidupan bangsa dan dalam hubungan antar bangsa. Birokrasi
bertugasmenerjemahkan berbagai keputusan politik ke dalam berbagai kebijakan
publik, dan berfungsi melakukan pengelolaan atas pelaksanaan berbagai kebijakan
tersebut secara operasional, efektif, dan efisien. Sebab itu disadari bahwa
birokrasi merupakanfaktor penentu keberhasilan keseluruhan agenda pemerintahan.
Birokrasi memegang peranan penting dalam perumusan, pelaksanaan dan pengawasan
berbagai kebijakan publik, termasuk evaluasi kinerjanya. Birokrasi adalah
melaksanakan kebijakan dan mana yang terbaik. Begitu juga dengan birokrasi di
sekolah harus di laksanakan dengan baik dan dapat menuju kesejahteraan yang
merata.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Mengapa sekolah disebut sebagai organisasi ?
2.
Mengapa kelas-kelas disebut sebagai sistem sosial ?
3.
Apa saja sasaran yang akan dicapai dalam birokrasi pendidikan ?
4.
Bagaimana prose sosialisasi di sekolah ?
5.
bagaimana interaksi di kelas dan lingkungan sekolah terhadap proses
pendidikan ?
C.
TUJUAN
Untuk
membaharui birokrasi pendidikan di sekolah-sekolah dalam kegitan belajar
mengajar
BAB II
PEMBAHASAN
A.
SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI
Sekolah
memiliki dua pengertian. Pertama, lingkungan fisik dengan berbagai
perlengkapan yang merupakan tempat penyelenggaraan proses
pendidikan untuk usia dan kriteria tertentu. Kedua, proses kegiatan
belajar mengajar.[1]
Sekolah adalah sebuah konsep yang mempunyai
makna ganda. Pertama, sekolah berarti suatu bangunan atau lingkungan fisik dengan
segala perlengkapannya yang merupakan tempat untuk menyelenggarakan proses
pendidikan tertentu bagi kelompok manusia tertentu. Kedua,sekolah berarti suatu
proses atau kegiatan belajar mengajar.[2]
Philip
robinson (1981) menyebut sekolah sebagai organisasi, yaitu unit sosial yang
secara segaja dibentuk untuk tujuan-tujuan tertentu. Sekolah sengaja diciptakan
untuk tujuan tertentu, yaitu memudahkan pengajaran sejumlah pengetahuan.
Sekolah sebagai organisasi memiliki perbedaan dengan organisasi lainnya, sebagai
contoh dengan organisasi pabrik atau club sepak bola. Secara umum, yang
membedakan sebuah organisasi dari organisasi yang lainnya adalah tujuan yang
ingin dicapai. Sebuah pabrik sepatu dipastikan memiliki tujuan menghasilkan
barang-barang jadi berupa alas kaki, sedangkan sekolah bertujuan menghasilkan
individu-individu yang terdidik.
C.E.
Bidwell dan B. Davies menyebut sekolah sebagai organisasi birokrasi. Kedua
sosiolog ini menimbang sekolah dengan konsep birokrasi weber. Weber menyebutkan
enam prinsip birokrasi, yaitu:
1.
aturan dan prosedur yang tetap
2.
hierarki jabatan yang dikaitkan dengan struktur pimpinan
3.
arsip yang mendokumentasikan tindakan yang diambil
4.
pendidikan khusus bagi berbagai fungsi dalam organisasi
5.
struktur karier yang dapat diidentifikasi
6.
metode-metode yang tidak bersifat pribadi dalam berurusan dengan
pegawai dan klien didalam birokrasi.
Bidwell
berpandanagan bahwa sekolah memiliki ciri khas sebagai organisasi birokrasi.
Menurutnya, sekolah mempunyai ciri khas sebagai struktur longgar, yang
berkecenderungan untuk mengurangi desakan-desakan kearah birokratisasi. Struktur longgar yang dimaksud
oleh badwell adalah keterangan yang terdapat didalam lingkungan sekolah antara
otonomi guru dan keharusan untuk memenuhi kebutuhan umum pelajar. Para guru
memiliki kebebasan untuk menentukan cara ia mengajar dalam ruang kelas. Akan
tetapi, ia terikat dengan suatu silabus yang disusun oleh pihak yang
otoritatif. Sehubungan dengan itu, walaupun memiliki kelonggaran struktural,
sekolah memiliki kecenderungan birokratis. Jadi, beralasan kalau sekolah
disebut sebagai organisasi birokratis, walaupun jika ditimbang dengan konsep
birokrasi weber masih kurang tepat.
Dapat
disimpulkan bahwa pengertian sekolah adalah sekolah secara umum memiliki
komponen-komponen yang bersifat fisik: seperti lahan, bangunan, kurikulum, dan
orang-orang yang terlibat didalamnya.[3]
B.
KELAS SEBAGAI SISTEM SOSIAL
Menurut
Robert M.Z.Lawang system adalah sesuatu yang saling ketergantunagn antara satu
komponen dan komponen lainnya dalam hubungan timbal balik yang konstan, konstan
artinya apa yang terjadi kemarin merupakan perulangan dari yang sebelumnya, dan
besuk akan diulang kembali dengan cara yang sama. Dan karena sifatnya kontan
inilah, maka pola hubungan interaksi ini memiliki system tertentu.
Menurut
Winardi, sistem merupakan suatu kelompok
elemen yang interdependen yang antar berhubungan atau saling mempengaruhi satu
sama lain. Dari berbagai pendapat diatas disimpulkan bahwa sistem merupakan
suatu kelompok elemen-elemen yang saling berhubungan secara interdependen
(saling ketergantungan dan konstan).[4]
Ada
dua pengertian kata kelas yang dihubungkan dengan kata sekolah. Pertama, ruangan
tempat berjalannya proses pendidikan. Kedua, sejumlah pelajar yang
sama-sama menempuh suatu tingkatan tertentu dalam sebuah lembaga pendidikan.
Kelas dalam pengertian yang lebih dikenal dengan istilah lokal yaitu merupakan
merupakan ruangan tertentu dengan arsitektur tertentu juga (sebagai ciri khas
ruangan sekolah) tempat kegiatan siswa dalam mengikuti proses pendidikan.[5]
Sekolah
terdiri atas kelas-kelas yang juga dapat dianalisis sebagai sebuah sistem.
Pengertian kelas dalam konteks sekolah dapat menimbulkan dua macam asosiasi
yaitu kelas sebagai ruangan tempat proses pendidikan berlangsung dan kelas sebagai
sekelompok atau sejumlah pelajar yang bersama-sama menempuh suatu pelajaran
pada suatu lembaga pendidikan. Yang terakhir kelas dapat diartikan sebagai
sejumlah pelajar yang untuk periode tertentu, misalnya satu tahun menempuh
paket program yang sama atau hanya untuk sebuah mata pelajaran saja. Disini
kelas diartikan sebagai sekelompok pelajar seperti tersebut tanpa memperhatikan
apakah mereka menempuh satu paket program pendidikan bersama-sama ataukah hanya
satu atau beberapa mata pelajaran saja.
Pada
umumnya disekolah-sekolah tradisional pelajar dalam satu kelas menempuh paket
pendidikan yang sama sehingga mereka berada pada tingkat ketempuhan program
yang sama. Pada sistem pendidikan yang baru, setiap pelajar mempunyai program
pendidikan yang tersusun secara individual, dalam arti seorang pelajar
mempunyai program pendidikan yang berlainan dengan pelajar yang lainnya. Dengan
demikian sebuah kelas mungkin terdiri dari atas mahasiswa yang hanya bertemu
mata pelajaran tertentu saja.[6]
C.
BIROKRASI PENDIDIKAN
Apabila
sekelompok orang berkumpul untuk mencapai suatu sasaran umum, maka sesuatu
bentuk organisasi social sangat diperlukan. Bermacam-macam aktor dalam
pencarian umum ini memainkan peran yang berbeda-beda. Kita menunjuk kepada berbagai
keterkaitan antara peran-peran ini sebagai sebuah struktur. Berbagai organisasi
dapat berjangka dari yang sangat sederhana hingga yang paing kompleks. Semuanya
mempunyai sifat-sifat yang khas yaitu suatu pemberian tugas dan lainnya. Ketika
struktur itu menjadi lebih kompleks, maka orang-orang akan semakain menjadi
saling ketergantungan antara satu dengan yang lainnya maka struktur tersebut
akan menjadi sebuah jurusan organisasi
atau yang lebih telah menjadi suatu oraganisasi yang formal. Unsur organisasi
tersebut dimaksudkan mengatur dan membuat sesuatu yang dapat diramal mengenai
berbagai interaksi manusia yang terlibat
di dalamnya, jika tidak maka akan terjadi suatu ketidakberesan, ketidak
tentuan bahkan akan terjadi kekacauan.
Organisasi
yang kompleks mempunyai berbagai jenis rangkaian-rangkaian sasaran, dan kita
dapat menganggap organisasi itu sebagai jumlah keseluruhan dari makna-makna
yang diterapkan oleh sejumlah anggotanya masing masing.
Gordon
(1975) menyebut lima jenis sasaran organisasi. Kita harus mengerti maknanya
jika kita ingin mengertinya dengan baik apa sebenarnya organisasi persekolahan
yang kompleks tersebut.
1. sasaran formal.
Biasanya inilah yang sering disebut sebagai tujuan umum dan diuraikan bahkan
ditulis, sama halnya seperti sebuah konstitusi yang dibentuk melalui pengesahan
badan perundang-undangan dan seringkali memberikan batas-batas hukum pada
organisasi tersebut
2. sasaran
informal. Merupakan interpretasi dan modifikasi sasaran formal oleh mereka yang
sudah terlibat langsung, dengan memberikan suatu interpretasi kolektif mengenai
apa tujuan dan struktur yang dilakukannya.
3. Sasaran
pribadi yang dianut
oleh individu-individu didalam organsasi. Hal ini menyangkut tujuan untuk
dirinya sendiri.
4. sasaran
ideologis, seperti tersirat dalam istilah itu, terletak di dalam suatu system
eksternal atau istem nilai yang luas. Pada gilirannya maka hal-hal ini dapat
mempengaruhi suatu organisasi secara luas.
5. sasaran lebam,
tak berdaya. Hal ini hanya menunjuk pada kecenderungan suatu organisasi untuk
mengekalkan diri, walau sasaran yang resmi
telah tercapai. Sulitlah menilai sasaran ini sehubungan dengan
keseluruhan anggota lembaga persekolahan. Lebih mudah memandangnya dari segi
presfektifnya atau bagaian sub unitnya.[7]
D.
PROSES SOSIALISASI DISEKOLAH
Manusia
disamping sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial yang mana
manusia yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan. Sosialisasi merupakan
suatu hal yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup antar sesama manusia
karena dengan adanya sosialisasi akan membawa manfaat baik bagi manusia itu
sendiri maupun bagi lingkungan tempat tinggal.
Pengertian
sosialisasi banyak disampaikan oleh para ahli, antara lain yaitu proses
sosialisasi adalah proses membimbing individu ke dalam dunia sosial. Menurut
pandangan Kimball Young (Gunawan : 2003), sosialisasi ialah hubungan interaktif
yang mana seseorang mempelajari keperluan-keperluan sosial dan kultural yang
menjadikan seseorang sebagai anggota masyarakat. Pendapat dua ahli tersebut
sama-sama menyatakan bahwa sosialisasi merupakan proses individu menjadi
anggota masyarakat. Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan
bahwa sosialisasi adalah proses individu dalam mempelajari keperluan-keperluan
sosial dan kultural di sekitarnya yang mengarah ke dunia sosial.
Dalam
Undang-Undang 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan
bahwa jalur pendidikan sekolah/formal merupakan jalur pendidikan yang
terstruktur dan berjenjang (pasal 1 ayat 10). Peranan sekolah sebagai lembaga
yang membantu lingkungan keluarga, maka sekolah bertugas mendidik dan mengajar
serta memperbaiki dan memperhalus tingkah laku anak didik yang dibawa dari
keluarganya. Sementara dalam perkembangan kepribadian anak didik, peranan
sekolah dengan melalui kurikulum, antara lain yaitu sebagai berikut :
1.
Anak didik belajar bergaul sesama anak didik, antara guru dengan
anak didik , dan antara anak didik dengan orang yang bukan guru (karyawan).
2.
Anak didik belajar mentaati peraturan-peraturan sekolah.
3.
Mempersiapkan anak didik
untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa, dan
negara.
Bisa
dikatakan bahwa sebagian besar pembentukan kecerdasan, sikap, dan minat sebagai
bagian dari pembentukan kepribadian dilaksanakan oleh sekolah. Kenyataan ini
menunjukkan betapa penting dan besar pengaruh dari sekolah. Jadi dalam hal ini
sekolah mempunyai peranan yang penting dalam proses sosialisasi yaitu proses
untuk membantu perkembangan individu menjadi makhluk sosial serta makhluk yang
dapat beradaptasi dengan baik di masyarakat.[8]
E.
PROSES INTERAKSI DIKELAS DAN LINGKUNGAN SEKOLAH
Didalam
kelas terjadi interaksi antara guru dan siswa dan antar sesama
siswa. Interaksi ini bersifat intensif dan terprogram interaksi tersebut
menimbulkan efek terhadap proses pendidikan. Interaksi didalam kelas melahirkan
sesuatu yang disebut dengan iklim atau suasana kelas. Interaksi para peserta
pendidikan didalam kelas terbingkai dalam aturan kelas yang telah ditentukan
oleh sekolah secara keseluruhan. Anda mungkin pernah mempunyai pengalaman
mengajar dikelas yang suasananya ribut dan anak-anaknya nakal. Akan tetapi,
anda pun pernah punya pengalaman mengajar dikelas yang tenang dan tertib.
Menurut para sosiolog, penyebabnya adalah interaksi dalam kelas. Interaksi
merupakan faktor dominan dalam menciptakan suasana kelas. Interaksi dalam kelas
melahirkan sesuatu yang disebut dengan iklim atau suasana kelas. Interaksi para
peserta pendidikan didalam kelas terbingkai dalam aturan kelas yang telah
ditentukan oleh sekolah secara keseluruhan.
Kehadiran
sekolah, baik secara fisik maupun sistem, memiliki dampak (umpan balik)
terhadap lingkungan. Begitu juga, kehadiran masyarakat disekitar sekolah
memiliki dampak bagi sekolah.Proses umpan balik ini mendorong sekolah untuk
mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Akan tetapi, mekanisme yang ada tidak
menunjang kelangsungan proses yang ada. Sebab, sekolah lebih berorientasi pada
program baku, bukan berdasarkan tuntutan langsung masyarakat.
Sementara itu, interaksi dalam sekolah
berlangsung antara empat kategori manusia dan antara orang-orang dalam setiap
kategori. Keempat kategori itu meliputi pimpinan sekolah, guru, pelajar, dan
karyawan nonguru. Keragaman struktur dan interaksi antar komponen dalam sekolah
sebagai sistem sangat bergantung pada jumlah dan tingkatan suatu sekolah.
Interaksi dalam sekolah yang memiliki siswa sebanyak 200 orang berbeda jauh
dengan sekolah yang memiliki siswa sebanyak 700 orang. Begitu juga, interaksi
di SMU akan berbeda jauh tingkat kompleksitasnya dengan interaksi di SMP atau
SD.[9]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1.
Sekolah sebagai organisasia mempunyai makna ganda, yaitu :
a.
sekolah berarti suatu bangunan atau lingkungan fisik dengan segala
perlengkapannya yang merupakan tempat untuk menyelenggarakan proses pendidikan.
b.
sekolah berarti suatu proses atau kegiatan belajar mengajar.
2.
Sekolah yang terdiri atas kelas-kelas dapat dianalisis sebagai
sebuah sistem. Pengertian kelas dalam konteks sekolah dapat menimbulkan dua
macam sosial yaitu :
a.
Kelas sebagai ruangan tempat proses pendidikan berlangsung
b.
Kelas sebagai sekelompok atau sejumlah pelajar yang sama-sama
menempuh suatu mata pelajaran tertentu pada suatu lembaga pendidikan.
3.
Organisasi yang kompleks mempunyai berbagai jenis
rangkaian-rangkaian sasaran, yaitu sasaran formal, sasaran informal, sasaran
lembam, tak berdaya, sasaran ideologis, sasaran pribadiyang dianut oleh
individu-individu didalam organsasi.
4.
Sekolah mempunyai peran untuk mendidik, mengajar, memperbaiki dan
memperhalus tingkah laku anak didik yang dibawa dari keluarganya. Bertujuan
untuk membantu perkembangan individu menjadi makhluk sosial serta makhluk yang
dapat beradaptasi dengan baik di masyarakat.
5.
Menurut para sosiolog, interaksi di kelas menjadi faktor dominan
dalam menciptakan suasana kelas. Interaksi para peserta pendidikan didalam
kelas terbingkai dalam aturan kelas yang telah ditentukan oleh sekolah secara
keseluruhan.
DAFTAR PUSTAKA
Mahmud. 2012. Sosiologi pendidikan. Bandung: pustaka setia.
http://stitattaqwa.blogspot.com/2013/07/sosiologi-pendidikan-sekolah-sebagai.html, diakses tanggal 3 november 2013
http://retnososiologi.blogspot.com/2012/03/blog-post.html, diakses tanggal 3
november 2013
http://faizhijauhitam.blogspot.com/2009/11/sekolah-sebagai-organisasi-birokrasi.html, diakses tanggal 3 november 2013
http://cimeissa03.wordpress.com/2011/12/14/proses-sosialisasi-peserta-didik-di-sekolah/, diakses tanggal 3 november 2013
[1]Mahmud, sosiologi pendidikan, (bandung: pustaka setia 2012) hal
167
[2]http://stitattaqwa.blogspot.com/2013/07/sosiologi-pendidikan-sekolah-sebagai.html,
diakses tanggal 3 november 2013
[3] Mahmud, sosiologi pendidikan, (bandung: pustaka setia 2012) hal
167-168
[5]Mahmud, sosiologi pendidikan, (bandung: pustaka setia 2012) hal
171
[7]http://faizhijauhitam.blogspot.com/2009/11/sekolah-sebagai-organisasi-birokrasi.html,
diakses tanggal 3 november 2013
[9]Mahmud, sosiologi pendidikan, (bandung: pustaka setia 2012) hal
168

Tidak ada komentar:
Posting Komentar