FORMAT DASAR IMU SOSIOLOGI PENDIDIKAN
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Pendidikan Islam
Ama Noor Fikri, S.Ag,M.Pdi
Disusun Oleh:
1.M Romli 1112062
2. Ulfa An Nisa’ 1112049
3.Rizka Amalia 1112044
4.Dwi Mega 1112054
5.Nurul Fathimatuzahroh 1112039
PRODI
PAI
FAKULTAS
AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS
PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
2013
KATAPENGANTAR
Segala puji
hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rosulullah
SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah
ini guna memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Pendidikan.
Dalam
penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi, baik itu
yang datang dari penulis maupun yang datang dari luar. Namun penulis menyadari
bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan,
dorongan, dan bimbingan orang tua juga para sahabat. Terutama pertolongan dari
Allah sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi dapat teratasi.
Makalah ini
disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Sosiologi Pendidikan Islam
serta permasalahan lainnya, yang kami dapatkan dari berbagai sumber informasi,
serta berbagai buku.
Semoga makalah
ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran
kepada pembaca khususnya mahasiswa Universitas Pondok Pesantren Tinggi Darul
Ulum. Penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
sempurna. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca
demi baiknya penulisan dimasa yang akan datang.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Saat ini fakta menunjukkan bahwa masyarakat mengalami perubahan
yang sangat cepat, progresif, dan sering menunjukkan gejala desintegratif
(berkurangnya kesetiaan terhadap nilai-nilai umum), jika nilai-nilai umum saja
sudah tidak diperhatikan lagi, apalagi dengan nilai-nilai agama.Perubahan
sosial yang cepat juga menimbulkan cultural lag (ketinggalan kebudayaan akibat
adanya hambatan-hambatan), yang menjadi sumber masalah-masalah dalam sosial
masyarakat.Masalah-masalah sosial juga dialami dunia pendidikan.Oleh karena
itu, para ahli sosiologi diharapkan mampu menyumbangkan pemikirannya untuk
memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
definisi Sosiologi Pendidikan Islam ?
2.
Bagaimana sebab
munculnya Sosiologi Pendidikan Islam ?
3.
Bagaimana
tujuan Sosiologi Pendidikan Islam ?
4.
Bagaimana
bidang kajian Sosiologi Pendidikan Islam ?
5.
Bagaimana
pendekatan dalam kajian Sosiologi Pendidikan Islam ?
C.
Tujuan Masalah
Agar mahasiswa mengetahui definisi, sebab munculnya, tujuan, dan
bidang kajian Sosiologi Pendidikan Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Sosiologi Pendidikan
Sosiologi
merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. Sosiologi berasal
dari kata “socius” yang berarti kawan atau teman dan “logis” yang berarti ilmu.
Secara harfiah sosiologi dapat dimaknai sebagai ilmu tentang perkawanan atau
pertemanan. Istilah sosiologi diperkenalkan pertama kali oleh August Comte
(1798-1857) pada abad ke-19. istilah ini dipublikasikan melalui tulisannya yang
berjudul “Cours de Philosophie Positive”. Sosiologi, oleh Comte dikatakan
sebagai ilmu tentang masyarakat secara ilmiah .
Sosiologi
merupakan disiplin ilmu yang lahir pada saat terakhir perkembangan ilmu
pengetahuan. Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai: pertama,
hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial,
misalnya gejala ekonomi dengan agama, pendidikan dengan ekonomi, agama dengan
pendidikan, pendidikan dan politik. Kedua, hubungan dan pengaruh timbal balik
antara gejala sosial dengan gejala-gejala non sosial, misalnya gejala biologis,
geografis, iklim dan sebagainya.
Ketiga,
ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial. Sosiologi dapat digolongkan
pada salah satu bentuk ilmu pengetahuan (sosial) atau social science. Sosiologi
merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. [1]
B.
Sebab Munculnya Sosiologi Pendidikan
Islam
Saat ini fakta menunjukkan bahwa masyarakat mengalami perubahan
yang sangat cepat, progresif,
dan sering menunjukkan gejala desintegratif (berkurangnya kesetiaan terhadap
nilai-nilai umum), jika nilai-nilai umum saja sudah tidak diperhatikan lagi,
apalagi dengan nilai-nilai agama.Perubahan sosial yang cepat juga menimbulkan
cultural lag (ketinggalan kebudayaan akibat adanya hambatan-hambatan), yang
menjadi sumber masalah-masalah dalam sosial masyarakat.Masalah-masalah sosial
juga dialami dunia pendidikan.Oleh karena itu, para ahli sosiologi diharapkan
mampu menyumbangkan pemikirannya untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan
yang fundamental.
Pendidikan formal di sekolah tidak akan pernah lepas dari campur
tangan guru. Guru merupakan seorang administrator, informator, konduktor, dan
sebagainya, yang diharuskan memiliki kelakuan dan tabiat yang sesuai dengan
harapan masyarakat. Sebagai pendidik dan pembangun generasi, seorang guru
diharapkan memiliki tingkah laku yang bermoral tinggi yang dapat ditiru dan
dijadikan tauladan bagi para siswa demi masa depan bangsa dan Negara.
Kepribadian guru dapat mempengaruhi suasana kelas maupun sekolah,
yang akibatnya siswa dapat bebas dalam mengeluarkan pendapat dan mengembangkan
kreatifitasnya, atau bahkan sebaliknya, terkekang dan selalu menuruti kemauan
guru tanpa bisa berkembang.
Anak dalam perkembangannya dipengaruhi oleh orang tua (pendidikan
informal), guru-guru/sekolah (pendidikan formal), dan masyarakat (pendidikan
non formal).Dari ketiga aspek tersebut, pengaruh lingkunganlah yang paling
menentukan.Pendidikan sendiri dapat dipandang sebagai sosialisasi yang terjadi
dalam interaksi sosial.Maka sudah sewajarnya bila seorang guru/pendidik harus
berusaha menganalisis pendidikan dari segi sosiologi, mengenai hubungan antar
manusia baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat (dengan sistem
sosialnya).
C.
Tujuan Sosiologi Pendidikan Islam
Menurut Lester Frank Ward, tujuan sosiologi pendidikan adalah
mengatasi masalah social, seperti kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan
dengan pendidikan. Oleh sebab itu sosiologi pendidikan harus menghasilkan
konsep paling real untuk mencapai tujuannya, pendidikan harus menjanjikan
jawaban yang tepat untuk mengatasi permasalahan social. Adapun menurut Robert
Angell, tujuan sosiologi pendidikan adalah menganalisis dan meneliti lembaga
pendidikan serta peristiwa-peristiwa yang terjadi didalamnya.
Pandangan dua sosiologi diatas memetakan tujuan sosiologi
pendidikan pada wilayah pendidikan formal dan terbatas. Adapun tujuan sosiologi
pendidikan dalam pengertian luas adalah menganalisis peristiwa interaksi
peserta pendidikan. Pesrta pendidikan itu bisa orang yang ada di sekolah,
masjid, rumah, balai pelatihan, lembaga kursus, atau tempat mana saja yang di
dalamnya terjadi proses pendidikan (belajar). Peristiwa interaksi diantara
mereka dianalisis oleh sosiologi pendidikan. Sosiologi pendidikan menganalisis
cara mereka berinteraksi dengan sesamanya, cara mereka berinteraksi dengan
orang lain diluar sistemnya dan hubungan system mereka dengan system-sistem
lainnya.[2]
D.
Ruang lingkup sosiologi pendidikan
Berbicara mengenai ruang lingkup sosiologi pendidikan, hali ini
tidak dapat terlepas dari masyarakat.Oleh karena itu sosiologi juga disebut
ilmu masyarakat atau ilmu yang membecarakan mengenai masyarakat. Berikut ini
akan kami sampaikan mengenai ruang lingkup pembahasan sosiologi.[3]
Ruang linkup
pendidikan ada 4 yaitu:
1.
hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam
masyarakat.
2.
hubungan antar manusia dilembaga pendidikan.
3.
pengaruh sekolah terhadap prilaku dan kepribadian semua pihak
disemua pendidikan.
4.
lembaga pendidikan kepada masyarakat.[4]
E.
Contoh Kajian Sosiologi Pendidikan
Islam
Membahas mengenai contoh
kajian sosiologi pendidikan, hal ini tidak terlepas dari masyarakat. Oleh
karena itu sosiologi disebut juga sebagai Ilmu Masyarakat atau Ilmu yang
membicarakan masyarakat. Berikut ini kami akan memberikan contoh masalah dalam
masyarakat yaitu tentang putus sekolah (drop out).
Putus sekolah merupakan predikat yang diberikan kepada peserta
didik yang tidak mampu menyelesaikan suatu jenjang pendidikan, sehingga tidak
dapat melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan berikutnya.Masalah putus
sekolah khususnya pada jenjang pendidikan rendah, kemudian tidak bekerja atau
berpenghasilan tetap, merupakan beban masyarakat bahkan sering menjadi
pengganggu ketentraman masyarakat.Hal ini diakibatkan kurangnya pendidikan atau
pengalaman intelektual, serta tidak memiliki ketrampilan yang dapat menopang
kehidupannya sehari-hari.Lebih-lebih bila mengalami frustasi dan merasa rendah
diri tetapi bersikap overkompensasi, bisa menimbulkan gangguan-gangguan dalam
masyarakat berupa perbuatan kenakalan yang bertentangan dengan norma-norma
sosial yang positif.
Masalah putus sekolah bisa menimbulkan ekses dalam masyarakat,
karena itu penanganannya menjadi tugas kita semua.Khususnya melalui strategi
dan pemikiran-pemikiran sosiologi pendidikan, sehingga para putus sekolah tidak
mengganggu kesejahteraan sosial. Sekurang-kurangnya ada 3 (tiga) langkah yang
dapat dilakukan, yaitu:
a)
Langkah preventif: membekali para peserta didik dengan
ketrampilan-ketrampilan praktis dan bermanfaat sejak dini, agar kelak bila
diperlukan dapat merespons tantangan-tantangan hidup dalam masyarakat secara
positif, sehingga dapat mandiri dan tidak menjadi beban masyarakat, atau
menjadi parasit dalam masyarakat. Misalnya ketrampilan-ketrampilan kerajinan,
jasa, perbengkelan, elektronika, PKK, fotografi, batik, dan lain sebagainya.
b)
Langkah pembinaan: memnerikan pengetahuan-pengetahuan praktis yang
mengikuti perkembangan/perbaruan zaman melaui bimbingan dan latihan-latihan
dalam lembaga-lembaga sosial/pendidikan luar sekolah seperti LKMD, PKK,
klompencapir, karang taruna, dan lain sebagainya.
c)
Langakah tindak lanjut: memberikan kesempatan yang seluas-luasnya
kepada mereka untuk terus melangkah maju melaui penyediaan fasilitas-fasilitas
penunjang sesuai kemampuan masyarakat tanpa mengada-ada, termasuk membina
hasrat pribadi untuk berkehidupan yang lebih baik dalam masyarakat. Misalnya memberikan
penghargaan, bonus, keteladanan, kepahlawanan, dan sebagainya, sampai berbagai
kemudahan untuk melanjutkan studi dengan program Belajar Jarak Jauh (BJJ),
seperti unoversitas terbuka, sekolah terbuka, dan sebagainya.[5]
F.
Pendekatan – Pendekatan Dalam Kajian
Sosiologi Pendidikan Islam
Sosiologi pendidikan sebagai disiplin ilmu pengetahuan yang
mempelajari secara khusus tentang interaksi diantara individu-individu, antar
kelompok, institusi- institusi sosial, proses sosial, relasi sosial dimana di
dalam dan denganya manusia memperoleh dan mengorganisir pengalaman. Menurut Abu
Ahmadi, sosiologi pendidikan memiliki pendekatan psiko-pedagogis.Pendekatan
sosiologi sebagai pendekatan sosiologi pendidikan terdiri dari :
1.
Pendekatan Individual (The Individual Approach)
Dalam
sosiologi, individu digunakan untuk menunjuk orang – orang atau manusia
perorangan, yang berarti satu manusia bukan kelompok manusia.Individu dibatasi
oleh diri sendiri dan tidak terbagi, ibaratnya individu sebagai atom
masyarakat, atom sosial. Apabila kita dapat memahami tingka laku individu satu
persatu, seperti cara berfikir, perasaan, kemauan, perbuatan, sikap dan
ucapannya maka akan dapat dimengerti keberadaan suatu masyarakat.
Pada intinya,
individu adalah manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas dan lingkungan
sosialnya, maliankan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku
spesifik dirinya, karena dalam diri individu manusia mempunyai tiga aspek,
yaitu apek organik jasmani, aspek psikis rohaniah dan aspek sosial kebersamaan.
Ketiga aspek tersebut saling mempengaruhi dan keguncangan pada satu aspek akan
membawa akibat pada aspek yang lain.
2.
Pendekatan Sosial (The Social Approach)
Secara pribadi
manusia merupakan makhluk individu, tetapi dalam kenyataannya sejak lahir
manusia sendiri sebenarnya menunjukkan makhluk sosial. Manusia tidak dapat
hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Secara ekstrim, manusia tidak dapat
dipisahkan dengan keluarganya, teman, kelompok dan masyarakatnya. Menurut CA. Elwood dalam bukunya The
Psycology of Human Society menyatakn bahwa ada 3 unsur biologis yang
menyebabkan manusia hidup bermasyarakat dan saling ketergantuungan, yaitu
dorongan untuk makan, dorongan untuk mempertahankan diri dan doronganuntuk
melangsungkan jenisnya.
Pendekataan
sosial beranggapan bahwa tingkah laku individu secara mutlak ditentukan oleh
masyarakat dan budaya, dimana iindividualitas tenggelam dalam sosialitas
manusia.
3.
Pendekatan Interakksi (The Interaction Approach)
Interaksi
sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih, individu manusia dimana
kalakuan individu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu
lainnya atau sebaliknya. Definisi ini menekankan pada hubunagn timbak balik
interaksi sosial antara dua atau lebih manusia. Interaksi sosial dilakukan
dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan afeksi atau cinta kasih, kkebutuhan
inklusi atau mendapatkan kepuasan dan mempertahankan serta memenuhi kebutuhan
kontrol.Beberapa faktor yang melatarbelakangi tejadinya interaksi adalah adanya
imitasi, sugesti, identifikasi, simpati dan motivasi.
BAB III
PENUTUP
A.
Keimpulan
Sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari hubungan manusia dalam hidup di tengah-tengah
masyarakat. Sedangkan pengertain sosiologi pendidikan islam seperti dalam buku
sosiologi pendidikan (Prof. Dr. S. Nasution, M.A) kami menemukan sosiologi
pendidikan yaitu ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan
proses pendidikan untuk memperoleh perkembangan kepribadian individu yang lebih
baik, yang dimunculkan karena perubahan respon masyarakat kepada perkembangan
pendidikan dengan bidang kajian contoh dan pendekatan-pendekatan yang telah
terpaparkan
DAFTAR PUSTAKA
M. Padil dan Triyo Suprayitno, Sosiologi Pendidikan, Yogyakarta:
SUKSES OFFSET, 2007
Mahmud. Sosiologi Pendidikan. Jawa Barat : CV. Pustaka Setia, 2012
http://www.scribd.com/doc/21727570/Makalah-Sosiologi-Penddkn-Islam
(diakses pada pukul 09.12 WIB Selasa, 02 10 2012)
http://www.scribd.com/doc/52532416/Sosiologi-Pendidikan-Islam
(diakses pada pukul 09.51 WIB, Selasa, 02 10 2012)
http://www.m-edukasi.web.id/2013/07/sejarah-sosiologi-pendidikan.html
[1]http://www.m-edukasi.web.id/2013/07/sejarah-sosiologi-pendidikan.html
[2]Mahmud. Sosiologi
Pendidikan. (Jawa Barat : CV.
Pustaka Setia, 2012) hal. 18-19
[3]http://www.scribd.com/doc/21727570/Makalah-Sosiologi-Pendidikn-Islam
(diakses pada pukul 09.12 WIB Selasa, 02 10 2012)
[4]Mahmud. Sosiologi
Pendidikan. (Jawa Barat : CV. Pustaka
Setia, 2012) hal. 17
[5]http://www.scribd.com/doc/21727570/Makalah-Sosiologi-Pendidikn-Islam
(diakses pada pukul 09.12 WIB Selasa, 02 10 2012)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar